Akash termenung di kamarnya memikirkan Meethi dan Sankrant. Ekadish : Ini bukan waktunya utk duduk seperti ini. Ini waktunya utk menjadi kuat.
Akash : Aku belum bisa mempercayai ibu sepenuhnya.
Ekadish : Aku tau itu. Tidak masalah apapun yang kau fikirkan tentang diriku. Lindungi istrimu dari Chaubey! Ini bukan permintaan tapi perintahku. Berikan dia kekuatan, kepercayaan dan yakinkan dia kalau semuanya akan baik-baik saja. Dia selalu berkata bahwa kebenaran yang akan menang. Ingatkan dia semua itu dan dukunglah dia.
Ekadish : Ingat saat kau belum genap berusia 4 tahun? Kau
mendukungku dan memberiku kekuatan. Kau memiliki keberanian dan
kekuatan itu. Genggam tangan istrimu dan yakinkan dia kalau kau akan
memperbaiki semuanya. Bangkitkan kembali kekuatan yang ada didalam
dirimu. Semuanya akan baik-baik saja. Kau bisa melakukannya.
Meethi sedang duduk dengan tatapan kosong saat Akash menemuinya. Akash : Kau tidak boleh menyerah. Kau adalah putri dari ibu Ichcha yang tidak pernah menyerah dalam hidupnya. Nenek Damini sangat mempercayaimu. Setiap kali kau merasa lemah ingatlah selalu kata-kata kakekmu, siapa yang mencoba tidak akan kalah. Kau tidak boleh menjadi lemah seperti ini. Kalau kau seperti ini, bagaimana bisa aku tetap berdiri tegar?
Meethi akhirnya berdiri dan mendekati Akash.
Meethi : aku tau itu dan aku juga berusaha untuk mengerti, tapi entah
kenapa aku menjadi lemah. Aku tau aku tidak bersalah tapi aku tidak
punya bukti. Akash mencium wajah Meethi.
Akadh : Kebenaran tidak butuh bukti. Kebenaran akan terbongkar sekeras apapun seseorang menutupinya. Kau tau siapa yang memberikanku kekuatan untuk menghadapi ini semua? Dia adalah ibuku. Dia memberitahu kalau sekarang bukan saatnya untuk menjadi lemah tapi jadilah kuat seperti gunung yang kokoh dan hadapi masalah didepan. Aku ingin melihat Meethi yang tidak pernah menyerah hingga sekarang, yang menggenggam tanganku dan menguatkanku. Apa kau mempercayaiku?
Meethi : Melebihi diriku sendiri.
Akash : Jangan lupa, kebenaran yang akan menang. Akash mu pasti akan membawamu keluar dari penjara ini. Aku berjanji. Aku mencintaimu Meethi.
SINOPSIS UTTARAN HARI SABTU 16 JULI 2016
Seorang polisi wanita memaksa Meethi mengakui perbuatannya, polisi
itu menyakiti Meethi karena Meethi bersikeras mengatakan bahwa dia tidak
melakukan hal itu.
Meethi : Kau dengar? Aku sama sekali tidak bersalah! Bukan aku yang melenyapkannya. Dengarkan aku!
Mr. rathore datang ke kantor polisi untuk memberikan kesaksiannya, ia mengatakan apa yang dia lihat (Ambika berteriak"kenapa kau ingin melenyapkanku, Meethi? ").
Polisi : Itu artinya Meethi yang membakar Ambika hidup2?
Mr. rathore : Aku tidak pernah mengatakan itu. Dalam kasus ini ada perbedaan antara "melakukan" dan "kemungkinan". Hanya "kemungkinan" kalau Meethi sudah membakar Ambika hidup2!!
Akash yang sedang melintas tetkejut mendengarnya, ia hanya mendengar bagian terakhir kata-kata Mr. rathore. Akash tidak percaya kalau Mr. rathore tega memberi kesaksian seperti itu.
Damini & Tuan Takhur melihat keadaan Meethi. Damini shock melihat jari-jari Meethi lebam karena ulah polisi yang menginterogasinya.
Meethi : Ini hukuman untukku karena dulu aku tidak mempercayai ibuku. Hari ini aku sangat merindukan ibuku.
Damini : Tidak akan terjadi apa2. Kau akan baik-baik saja. Kau tidak bersalah.
Polisi wanita itu berdiri didekat sel Meethi dan berkata, "Rathore sudah memberikan pernyataan untuk menentang Meethi". Damini & Tuan Takhur shock mendengarnya. Meethi terpaku, ia sudah kehilangan harapan terakhirnya.

Akash mempertanyakan kesaksian Mr. rathore tadi. Akash : Kenapa kau memberikan kesaksian untuk melawan Meethi?
Mr. rathore : Aku hanya mengatakan yang sebenarnya
Mukhta : Ya ayah, kau benar. Sekarang katakanlah yang sebenarnya. Kenapa ayah diam? Katakanlah kenapa kau melakukan itu semua. Kau tidak memberikan pernyataan yang melawan Meethi tapi mengatakan yang sebenarnya demi putrimu karena Meethi hanya "seperti" putri bagimu. Putrimu adalah Ambika.
Mukhta : Ambika adalah putri dari istri pertamanya, untuk membalaskan dendam (karena putrinya dibunuh) dia memberikan kesaksian kepada Meethi yang hanya "seperti" putri baginya.
Mr. rathore : Bukan seperti itu. Kalian bertiga sama bagiku. Aku hanya merasa sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa pada Ambika. Kau juga putriku.
Mukhta : Kau sudah kehilangan 1 putrimu dan hari ini kau kehilangan putri yang lainnya. Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Putrimu hanyalah Ambika, bukan aku. Kau bukan ayahku lagi dan aku bukan putrimu lagi.
Meethi : Kalian bisa menghukumku sesuka hati kalian tapi aku tidak bersalah! Semua yang aku katakan itu benar!
Polisi itu pergi meninggalkan Meethi. Meethi : Kau dengar? Aku sama sekali tidak bersalah! Bukan aku yang melenyapkannya. Dengarkan aku!
Mr. rathore datang ke kantor polisi untuk memberikan kesaksiannya, ia mengatakan apa yang dia lihat (Ambika berteriak"kenapa kau ingin melenyapkanku, Meethi? ").
Polisi : Itu artinya Meethi yang membakar Ambika hidup2?
Mr. rathore : Aku tidak pernah mengatakan itu. Dalam kasus ini ada perbedaan antara "melakukan" dan "kemungkinan". Hanya "kemungkinan" kalau Meethi sudah membakar Ambika hidup2!!
Akash yang sedang melintas tetkejut mendengarnya, ia hanya mendengar bagian terakhir kata-kata Mr. rathore. Akash tidak percaya kalau Mr. rathore tega memberi kesaksian seperti itu.
Damini & Tuan Takhur melihat keadaan Meethi. Damini shock melihat jari-jari Meethi lebam karena ulah polisi yang menginterogasinya.
Meethi : Ini hukuman untukku karena dulu aku tidak mempercayai ibuku. Hari ini aku sangat merindukan ibuku.
Damini : Tidak akan terjadi apa2. Kau akan baik-baik saja. Kau tidak bersalah.
Polisi wanita itu berdiri didekat sel Meethi dan berkata, "Rathore sudah memberikan pernyataan untuk menentang Meethi". Damini & Tuan Takhur shock mendengarnya. Meethi terpaku, ia sudah kehilangan harapan terakhirnya.
Akash mempertanyakan kesaksian Mr. rathore tadi. Akash : Kenapa kau memberikan kesaksian untuk melawan Meethi?
Mr. rathore : Aku hanya mengatakan yang sebenarnya
Mukhta : Ya ayah, kau benar. Sekarang katakanlah yang sebenarnya. Kenapa ayah diam? Katakanlah kenapa kau melakukan itu semua. Kau tidak memberikan pernyataan yang melawan Meethi tapi mengatakan yang sebenarnya demi putrimu karena Meethi hanya "seperti" putri bagimu. Putrimu adalah Ambika.
Akash : Apa itu benar Tuan Rathore?
Mr. rathore : Ya, itu benar. Ambika adalah putriku. Mukhta : Ambika adalah putri dari istri pertamanya, untuk membalaskan dendam (karena putrinya dibunuh) dia memberikan kesaksian kepada Meethi yang hanya "seperti" putri baginya.
Mr. rathore : Bukan seperti itu. Kalian bertiga sama bagiku. Aku hanya merasa sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa pada Ambika. Kau juga putriku.
Mukhta : Kau sudah kehilangan 1 putrimu dan hari ini kau kehilangan putri yang lainnya. Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Putrimu hanyalah Ambika, bukan aku. Kau bukan ayahku lagi dan aku bukan putrimu lagi.
Mukhta pergi meninggalkan mereka.
Ekadish : Sekarang aku mengerti kau melakukan ini demi putrimu.
Meethi melihat bayangan Ichcha berdiri didepan sel nya. Ichcha menggelengkan kepala meminta Meethi untuk tidak menangis. Meethi menghapus airmatanya dan ingin memeluk Ichcha tapi bayangan Ichcha sudah menghilang.
Mukhta akhirnya memberitahu Meethi kalau Ambika adalah
putrinya Mr. rathore, Meethi terkejut mendengarnya. Meethi teringat
bagaimana Mr. rathore memperhatikan Ambika selama piknik kemarin.
Mukhta : Ambika adalah putri sulungnya. Mungkin Ambika belum tau soal
itu. Ayahku tidak mendukungmu. Dia tidak adil padamu. Aku ingin minta
maaf padamu atas kesalahannya. Meethi : Aku percaya pada paman Rathore.
Mukhta : Kau yang akan mendapat hukuman. Apa gunanya mempercayainya? Pernyataannya membuktikan kalau kau yang bersalah atas kematian Ambika.
Meethi : Aku percaya pada dewa. Dia tau kalau aku tidak jahat. Ambika menyiramkan bensin itu ketubuhnya sendiri. Aku berusaha keras untuk menghentikannya, tapi dia tidak mendengarkanku.
Mukhta : Tapi kenapa dia ingin menghabisi nyawa nya
sendiri? Apa dia mengatakan sesuatu? Kau bilang tidak ada orang lain
disana, darimana dia mendapatkan bensin itu?
Meethi : Aku tidak tau itu. Dia hanya menelfonku untuk
datang kesana. Dia mengancam akan bunuh diri dan membawaku kesana.
Alasan dia melakukannya karena aku sudah tau wajah aslinya. Aku sudah
tau kalau dia membohongi kami semua dengan kehamilan palsunya. Aku punya
rekaman video nya. Dia takut kalau aku akan menunjukkannya pada semua
orang dan tidak tau apa yang akan terjadi padanya setelah itu. Dia
mencintai Akash. Dia ingin memiliknya.
Meethi juga menceritakan rekaman video di ponselnya itu pada Akash,
Akash menanyakan semua barang bukti kepada pengacaranya tapi ponsel
Ambika ternyata tidak ada di lokasi kejadian. Akash berfikr, "Kenapa hanya ponsel Ambika yang tidak bisa ditemukan? ".
Mukhta menyalakan TV, ia melihat sosok Ambika dalam sebuah berita. Mukhta sangat yakin kalau itu adalah Ambika. Mukhta memberitahu seluruh keluarganya tapi keluarganya masih sedikit ragu. Mukhta kemudian datang ke rumah Bundela untuk menemui Akash.
Mukhta : Akash! Aku melihat Ambika di TV!
Akash : Tubuh Ambika sudah ditemukan dan diidentifikasi. Mukhta : Aku tau apa yang aku katakan. Itu pasti Ambika. Percayalah padaku. Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas tapi aku tidak akan salah mengenalinya. Itu pasti Ambika.
Akash : Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku sudah melihat semua barang buktinya, saree nya, jam tangan emas dan juga ponselnya Meethi, tapi ponsel Ambika tidak ditemukan.
Ekadish merasa ada yang janggal.
Ekadish : Jam tangan emas? Ambika tidak pernah memakai jam tangan! Saat aku memberikan jam tangan di hari pernikahannya dia mengembalikannya.
Ekadish meminta Akash & Mukhta menunggu sebentar, dia ingin menunjukkan sesuatu. Ekadish kembali membawa 2 foto Ambika. Ekadish : Ambika tidak memakai jam tangan di foto manapun. Dia memakai gelang dikedua tangannya, tidak ada jam tangan!
Akash dan Mukhta memperhatikan dengan seksama.
Mukhta : Ada sesuatu yang tidak benar disini. Pertama, Ambika membawa Meethi ke tempat terpencil yang sudah ada bensin disana. Bagaimana bisa itu terjadi?
Akash : Ambika tidak pernah memakai jam tangan tapi ditemukan jam tangan dipergelangan tangan mayat tersebut. Ponsel Meethi ditemukan tapi ponsel Ambika tidak.
Mukhta : Aku tidak sengaja melihat Ambika di TV. Apa artinya ini? Apakah mayat itu sebenarnya bukan Ambika?
Akash & Mukhta memeriksa rekaman video berita tersebut tapi rekamannya tidak jelas, mereka sulit melihat wajahnya. Akash : Ini mungkin orang lain. Ambika selalu memakai saree. Wanita ini seperti berasal dari kota lain.
Ekadish menyuruh Akash membesarkan gambarnya tapi tidak bisa.
Mukhta berfikir, "Bagaimana caranya agar Akash mempercayainya? ".
Akash : Aku percaya padamu, tapi polisi membutuhkan bukti dan kita belum punya.
Ekadish : Bisakah kita bertiga menemukan jalan keluar dari teka-teki ini? Akash : Kita akan menemukan buktinya.
Akash berdo'a ke kuil, dia bicara dalam hati, "Meethi tidak bersalah. Kau tau itu karena kau bisa melihat segalanya, tapi aku tidak punya bukti apapun untuk membuktikan kalau dia tidak bersalah. Aku sudah berjanji padanya, aku akan membawanya keluar dari dalam penjara. Hanya kau yang bisa menolongku. Tunjukkan jalannya padaku".
Akash keluar dari kuil, orang-orang sedang merayakan holi
disana. Akash menyapa seorang gadis kecil yang berdandan seperti dewi,
Akash secara tidak sengaja melihat kearah cermin dari pedagang kaki
lima, ia terkejut melihat sosok Ambika didalam cermin.
Beberapa orang berlari saat hujan turun, Ambika masih berdiri
ditempatnya membersihkan bubuk holi dari wajahnya. Ambika langsung
berlari saat melihat Akash. Akash : Ambika!
Akash mengejar Ambika namun kehilangan jejaknya ditengah keramaian.
Ambika tersenyum melihat Akash berlari kearah berlawanan
Mr. rathore mencoba menghubungi ponsel Mukhta tapi Mukhta sengaja menolak panggilan masuknya. Mr. rathore berdiri ditengah hujan dan mengamuk.
Mr. rathore : Dewa, apa kau ingin kan? Apa masalahmu
denganku? Kau merenggut segalanya lagi dariku! Kau pasti bahagia
sekarang melihat aku berdiri disini sendirian!
Seseorang memayungi Mr. rathore. Dia adalah Tapasya. Tapasya : Kau tidak sendirian.
Mr. rathore memeluk Tapasya.
Di kediaman Takhur, Tuan Takhur menelfon Mukhta dan memberitahu bahwa Tapasya sudah kembali. Tapasya meninggalkan semua pekerjaannya (NGO) di Amerika begitu dia mendengar kabar tentang Meethi.
Tapasya menyeduhkan kopi untuk Mr. rathore.
Tapasya : Ambika adalah putrimu. Aku tau kau merasa sedih kehilangan putrimu. Tapi aku mengenal Meethi. Dia bahkan tidak akan memikirkan hal tersebut apalagi melakukannya. Dia adalah putrinya Ichcha.
Mr. rathore : Aku mempercayai Meethi. Tapi aku melihat
mereka berkelahi dengan mata kepalaku sendiri. Aku mendengar Ambika
berteriak. Jika itu bukan Ambika, aku juga akan memberikan pernyataan
yang sama.
Jari Tapasya menyentuh teko.
Tapasya : Aw!Mr. rathore : Kenapa?
Tapasya : Tidak apa2. Terkadang apa yang kita lihat bukanlah yang sebenarnya. Apa yang kita dengar bukanlah kebenarannya.
BACA JUGA SELANJUTNYA
LIKE FP VEERA ANTV UNTUK UPDATE SINOPSIS YA
DAFTAR SINOPSIS TERKAIT
